Facebook Twitter Google RSS

Pandangan Islam Terhadap Pancasila

Tim     23.25  

A.        PENDAHULUAN

         Segala puji syukur kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Esa, dan segala Rahmat dan petunjukNya kita menikmati kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara berdasar Pancasila dan Undang-Undang 1945, dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini semua berkat usaha dan perjuangan yang gigih para pendahulu kita yang telah meletakkan dasar-dasar Negara yang cerdas dan bijaksana.

      Tentu kita tidak dapat membayangkan bagaimana founding fathers dahulu, begitu tenang dan sangat teliti menyusun rumusan dasar-dasar Negara. Dan Pancasila ketika ditetapkan sebagai way of life bagi Masyarakat, Bangsa dan Negara Republik, dengan Undang-Undang Dasar 1945, bersifat religius dan universal.

        Bahkan hingga sekarang justru Pancasila tidak dapat dihindari sebagai magnit yang luar biasa untuk menjadi rujukan, ketika bangsa ini terasa carut marut dalam berkehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan beragama. Begitu pula bangsa-bangsa di dunia pada belajar terhadap kesaktian Pancasila yang secara biografis sangat syarat dengan perbedaan. Baik ras, agama dan suku yang memiliki berbagai macam adat, bahasa dan keyakinan.

       Ternyata dengan keberadaan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan sebagai dasar Negara, sejak kemerdekaan Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, semakin menunjukkan bukti yang tidak dapat dipungkiri oleh warga Negara Indonesia maupun warga Negara lain bahwa Pancasila telah menjadi payung raksasa, yang dapat memberikan jaminan rasa tenang dan aman dalam persatuan dan kesatuan, kerukunan antar umat bergama dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

       Pancasila telah teruji melalui berbagai seminar hukum dan dipandang dari berbagai segi baik filsafat dan agama serta perjalanan sejarah bangsa, bahwa Pancasila sangat cocok sebagai ideologi bangsa Indonesia. Dari bebagai ideologi politik dan paham agama, Pancasila dapat menimbulkan kepribadian secara selaras, serasi dan seimbang dan tidak bertentangan dengan hukum Tuhan dari berbagai keyakinan adat dan agama apapun di dunia dan khususnya di Indonesia.

       Karena itu Pancasila dari sudut pandangan Islam, tidak ada lagi yang dapat menunjukkan adanya jurang pembeda. Bahkan tidak ada sedikitpun Pancasila dengan 5 (lima) silanya dan ditambah secara rinci butir-butir dalam Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) yang ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Tahun 1978, bertentangan dengan ajaran Islam.

B.        PANDANGAN ISLAM TERHADAP PANCASILA

      Sejak terjadinya gerakan reformasi pada Tahun 1998, Pancasila mengalami ujian berat khususnya dalam masalah nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Menurut pandangan Islam bahwa teori dan praktek Demokrasi Pancasila hanya dapat diterima jika warna pencelupannya sesuai dengan pencelupan Pancasila, yaitu menurut celupan Allah yang ber-Ke Tuhanan Yang Maha Esa itu. Untuk mengenal celupan dari Allah SWT, orang bebas mempergunakan ilmu dari Barat-kah atau dari Timur-kah, tetapi setiap teori tentang masyarakat, bangsa dan Negara, tentang kebudayaan yang normative, hukum dan kesusilaan, tentang agama dan filsafat, yang coraknya datang dari jiwa Atheisme, Politheisme, Communisme dan jiwa munafik wajib ditolak seluruhnya, demikian menurut Prof. Dr. Hazairin SH. Dalam bukunya Demokrasi Pancasila Th. 1985.

            Ada 2 (dua) Pandangan Islam terhadap Pancasila, yang perlu dan penting untuk disampaikan disini diantaranya adalah :

Pertama, Pancasila dan Piagam Jakarta dipandang dari sudut Theologis.

         Secara historis Pancasila dan Pembukaan dalam Undang-Undang Dasar 1945, tidak dapat terlepas dengan keberadaan Piagam Jakarta. Perbedaan satu-satunya antara Piagam Jakarta dan Pembukaan UUD 1945 Cuma terdiri dari yakni ”dengan kewajiban manjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya,” sedangkan kewajiban yang dimaksud itu dari aspek theologis, sejak dahulu sampai sekarang telah dijalankan oleh umat Islam yang ta’at kepada agamanya.
           
         Negara Republik Indonesia yang berdasarkan ideologi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, menurut pandangan Islam mempunyai 2 (dua) Kedaulatan, yaitu Kedaulatan Rakyat dan Kedaulatan Tuhan.

Kalau Kedaulatan Rakyat, memiliki wujudnya Demokrasi Pancasila. Artinya hubungan antar manusia sepenuhnya yang berhak mengatur dirinya. Dan sampai pada menentukan suatu kekuasaan dalam sebuah Negara ditentukan oleh rakyat (manusia). Karena ini menyangkut ’Hablum minan naas’, maka Nabi Muhammad Rasulullah bersabda : ”antum a’lamu biumuuri dunyakum”, kamu lebih menget`hui urusan duniamu”.

Meskipun urusan dunia yang dianggap lebih tahu adalah manusia, bukan berarti mutlak dari manusia untuk manusia. Islam memberikan kesempatan manusia untuk bersikap kritis. Bukan jatuh kepada paham liberalisme, hidonisme, sekularisme, kapitaisme, atheisme, polytheisme, tetapi harus tetap pada paham monotheisme, yaitu paham yang menganut kepada Tuhan yang satu, Ketuhanan Yang Maha Esa sebagaimana sila pertama dalam Pancasila.

           
            Pancasila adalah produk manusia/bangsa Indonesia yang memiliki dasar negara yang ber-Ke Tuhanan Yang Maha Esa. Dan sangat paham dalam menghayati kehidupan warga bangsa yang plural (beraneka ragam suku dan agama). Penghayatan itu diabadikan dalam lambang Garuda Pancasila yang dicengkeramkan dengan kuat pada kata-kata ”Bhinneka Tunggal ika”. Semangat hidup dalam perbedaan ras, agama dan suku, yang didasarkan pada modal kebesaran jiwa yang ber-Tuhan, hendaknya mampu melahirkan jiwa ke-Esa-an atau ke-Ika-an dalam kebhinekaan.

            Menurut Prof. Dr. Mukti Ali MA. (yang dikenal Bapak Perbandingan Agama Indonesia), bahwa sikap yang paling tepat untuk hidup di Negara berdasarkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan menerapkan prinsip ”agree undisgreement”, setuju dalam dalam ketidak setujuan. Adapun ayat suci Al Qur’an surat Al Kafirun yang menyebutkan ”lakum diinukum waliya diin”, untukmu agamamu, untukku agamaku.

            Situasi terakhir masyarakat Indonesia telah mangalami dekadensi moral Pancasila dan agama. Dimana-mana ternyata terjadi tawuran antar warga. Adanya mudah marah kepada saudaranya sendiri, tidak lagi mengenal teman sendiri, sesama warga bangsa, antar mahasiswa/pelajar, antar pemeluk agama, seiman dan seagama. Perselisihan ini mulai antar sekolah/kampus, antar desa, seasma korp pegawai bahkan sesama anngota Gedung DPR.

           Peristiwa diatas menunjukkan bahwa doktrin Pancasila dan Agama, sudah mulai luntur. Setidaknya ada 2 (dua) masalah besar bagi Bangsa dan Negara dalam masalah ini.

a.         Pertama, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), dianggap tidak identik dengan Soeharto. Sehinfga apapun yang menjadi produk tatanan yang berasal dari pada zaman kepemimpinan H. Muhammad Soeharto dianggap tidak benar, dan tidak dapat dijadikan rujukan kebaikan dan kebenaran. Meskipun Pancasila yang dijabarkan secara rinci dalam P4 masih banyak relevansinya dalam kehidupan sekarang.

b.     Kedua, Menganggap remeh program tentang Tri Kerukunan Hidup Umat Beragama. Hal ini disebabkan adanya kelompok yang masih merasa dirugikan dan diuntungkan/belum menjadi bagian dari tatanan hidup yang sangat tinggi nilainya, baik sebagai nilai kebenaran Pancasila dan agama. Bahkan masih terjangkit adanya sindrom mayoritas (yang mayoritas merasa terdesak dengan berkembangnya yang minoritas) dan sindrom minoritas (yang minoritas merasa terinjak-injak haknya oleh yang mayoritas).

            Kalau P4 dan Tri Kerukunan Hidup Umat Beragama yang berdasarkan Pancasila yang merupakan konsep maju dan modern sebagai bangsa, dan demi terwujudnya konsep ”Rahmatan Lil’alamin”, rahmat bagi seluruh alam, harus dijadikan perhatian utama dalam mambangun karakter bangsa. Pemerintah dalam hal ini harus tegas dan bijak, sebagaimana firman Allah ”Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari dua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah.....Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Al Qur’an surat Al Hujurat 9-10)

            Pancasila yang hingga kini masih dipertanyakan sebagian warga negara yang belum menghayati ”hubbul wathon minal iman”, cinta tanah air itu sebagian daripada iman (Al Hadits). Sebagian warga Negara inilah yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Karena sesungguhnya merekalah yang sering menimbulkan pemahaman-pemahaman yang selalu cenderung antagonistik (pertentangan). Lebih daripada itu, mereka mengarah kepada anti kemapanan. Tidak peduli Negara Pancasila dan agama, menljadi lahan untuk menyalurkan pikiran-pikiran yang antagonistik itu.

            Berdasarkan realitas sosial keagamaan diatas, maka masalah besar tersebut harus cepat segera diatasi. Sayang jika bangsa ini dibiarkan terlanjur masuk kejurang dekadensi moral, baik moral Pancasila (tidak Pancasila) maupun moral agama (tidak agamis). Karena secara theologis bangsa ini hampir mulai terjangkit mosi tidak percaya terhadap kebenaran Pancasila dan Agama. Dan mulai melirik kepada kapitalisme, liberalisme dan sosialisme komunisme, sebagai upaya mencari solusi daripada kebutuhan politik sekaligus agama.
           
Sementara kedaulatan Tuhan Allah SWT memiliki wujud dalam sila pertama dan utama dalam Pancasila yaitu Ke Tuhanan Yang Maha Esa. Dalam Al Qur’an surat Al Ikhlas ayat pertama dan seterusnya, jelas umat Islam secara theology meyakini sebagai inti kekuatan ajaran Islam. Dan sebagai dogma teologi yang tidak boleh diingkari ke-Esa-annya.

Dan keutamaannya adalah berdasarkan keinsyafan bahwa theologi Pancasila menempatkan Tuhan sebagai sumber yang paling Agung. Karena pada dasarnya keyakinan atas adanya Kedaulatan Tuhan, dilandasi atas 2 (dua) hal yang menjadi realitas bangsa Indonesia, yaitu bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat adat dan religius. Karena itu didalam dada masyarakat Indonesia sudah bersemayam adanya keyakinan terhadap adanya kekuatan dibalik yang nyata (baik keyakinan nenek moyang dengan dinamisme, animisme maupun aliran kepercayaan yang berkembang di masyarakat Indonesia). Apalagi kehadiran agama-agama besar di dunia, seperti Islam, Kristen, Hindu dan Budha, begitu antusias masyarakat Indonesia untuk menerima keyakinan dan berpindah menjadi pemeluk agama-agama tersebut.

Begitu pula ketika bahwa Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia adalah tokoh-tokoh yang religius yang sangat paham dan sadar betul bahwa kemerdekaan yang merupakan hasil perjuangan bangsa Indonesia adalah ”atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa”.

Karena itu secara Theologis hendaknya di pahamkan bahwa menjalankan kehidupan yang Pancasilais atau menjalankan Demokrasi Pancasila itu syarat muatan amanah Allah. Manusia telah diberi amanah yang langsung bersumber kepada Allah, ”Dan dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan dia mengangkat (derajat) sebagian kamu diatas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu” (surat Al’Anam 165).

Dengan demikian wajib bagi kita, baik sebagai warga Negara biasa maupun yang menjalankan tugas Negara baik sipil maupun militer menjalankan amanah itu dengan penuh dedikasi tanpa pamrih. Karena itu setiap langkah dalam kehidupan, hendaknya disesuaikan dengan kehendak Allah Tuhan Yang Kuasa. Dan selaras dengan itu wajiblah setiap sumpah jabatan disertai dengan ucapan ”Demi Allah” seperti yang telah dicontohkan dalam pasal UUD 1945.

Kedua, Pancasila dan umat Islam dipandang dari sudut sosiologi agama.

            Sudah menjadi takdir ilahi bahwa manusia hidup berkelompok dan salah satu kelompojk adalah kelompok bangsa. Sejak terjadinya revolusi Perancis 1789, peran bangsa menjadi besar dalam kehidupan umat manusia dengan terjadinya Negara-negara kebangsaan (nation states).

            Negara kebangsaan menjadi subjek yang utama dalal kehidupan Internasional. Maka secara sosiologis sebagai umat Islam kita menganut persaudaraan Islam yang tak mengenal batas bangsa dan meliputi seluruh umat manusia. Tetapi dipihak lain kita sebagai umat Islam juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Negara dan Bangsa, dimana kita dilahirkan dan hidup di Negara Pancasila yaitu Negara Indonesia.

            Karena Islam itu memandang sangat strategis bahwa umat Islam adalah menjadi bagian dari  bangsa Indonesia, mempunyai kepentingan besar atas kemajuan bangsa Indonesia. Sebab makiin maju kesejahteraan hidup bangsa Indonesia, makin sejahtera pula kehidupan umat Islam di Indonesia. Karena umat Islam adalah mayoritas, maka keberhasilan pembangunan bangsa Indonesia berarti keberhasilan umat Islam Indonesia.

          Sebagai umat Islam yang memiliki keyakinan bahwa Islam adalah ”rahmatan lil alamin”, rahmat bagi seluruh alam, maka umat Islam yang merupakan bagian dari bangsa Indonesia harus menempatkan diri sebagai yang terdepan sebagai patriot bangsa, pembela tanah air, mencintai tanah air, dan bahkan komitmen terhadap pemimpin-pemimpin bangsa sebagai kholifah yang harus pula di taati, selain Allah dan Rasulnya (athi’ullah wa athi’ur rasuul wa ulil amri minkum al qur’an).

         Islam memandang hukumnya wajib menghargai, menghormati dan mentaati siapapun pemimpin Negara Republik Indonesia. Demokrasi Pancasila yang berdasarkan Ke Tuhanan Yang Maha Esa, berarti pula Negara ini secara tidak langsung berdasarkan sosiologi agama adalah pemerintahan yang didasarkan pada syari’at agama dan masyarakat adalah masyarakat yang agamis (religius). Sila-sila dalam Pancasila adalah jelas merupakan dasar-dasar yang tidak bertentangan ajaran agama (Islam) bahkan sejalan dengan syari’at Islam.

        Sila pertama Ke Tuhanan Yang Maha Esa, sangat memberikan pemahaman bagi bangsa bahwa sila pertama Pancasila merupakan rujukannya adalah dalil naqli dari Al Qur’an surat Al Ikhlas ayat 1 (satu) ”Qulhuwallahu Ahad”, katakan Muhammad bahwa dia Allah Tuhan Yang Maha Esa. Dan ini adalah theologi Islam, kebenaran sila pertama Pancasila sebagai rujukan tersebut tidak terbantahkan oleh pemeluk agama-agama lain. Bahkan mereka membenarkan hakekat dari keyakinan mereka pun pada dasarnya juga ber Tuhan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    Memandang dari sudut theology bahwa Ke Tuhanan Yang Maha Esa diatas, para ulama menegaskan betapa pentingnya bangsa ini menumbuhkan persaudaraan melaui uchuwah wathoniyah (persaudaraan antar Negara), uchuwah bashoriah (persaudaraan antar warga negara), dan uchuwah Islamiyah (persaudaraan antar umat Islam). Persaudaraan ini sangat menjadi perhatian khusus oleh ajarabn Islam, demi terwujudnya persaudaraan menyeluruh bagi warga bangsa. Dan pemerintah gayung bersambut melalui Kementrian Agama, telah merumuskan Tri Kerukunan Hidup Umat Beragama, yaitu kerukunan antar agama dan pemerintah, kerukunan antar agama dan kerukunan intern umat beragama.

          Dalam kehidupan bangsa yang multi ras, agama dan suku, maka rumusan Tri Kerukunan Umat Beragama menjadi sangat penting dan strategis dalam upaya pemerintah menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa, sebagai wujud dan bentuk Negara yang ber Ke Tuhanan dengan pemerintahan yang sangat memahami bahwa bangsa lndonesia, masyarakatnya adalah masyarakat religius.

         Secara sosiologis bahwa realitas masyarakat lndonesia, penduduknya yang paling besar adalah umat lslam (mayoritas). Karena itu Negara Republik lndonesia ini maju dan mundumya, secara tidak langsung telah menjadi tugas dan tanggung jawab umat lslam. Peranan umat Islam sangat penting dan modal besar bagi Negara untuk dijadikan modal dasar pembangunan.

       Bahkan tidak mustahil bahwa kemajuan lndonesia dapat menjadi inspirasi bagi perkembangan dan kemajuan umat lslam di Negara-negara lain, Karena itu betapapun kemajuan yang dicapai oleh kalangan non lslam, itu masih belum dapat membawa kemajuan bangsa lndonesia kalau umat lslam lndonesia belum mencapai kemajuan hidup, Dengan menyadari existensinya sebagai umat mayoritas, dan sebagai warga Negara yang ta'at pada Allah, RasulNya dan pemimpin pemerintahan, wajib hukumnya hubungan baik pemerintah dan umat lslam harus tetap terpelihara dengan baik.

Bahkan mayoritas umat lslam mendukung Negara Pancasila dan sedikit yang menginginkan berdirinya Negara lslam dan itupun dilakukan dengan cara damai karena mereka tidak melawan otoritas pemegang kekuasaan Negara melainkan dengan membangun 'masyarakat ideal’, yang diyakini sebagai pelaksanaan konsep Negara dalam lslam, Konsep 'masyarakat ideal’ ini yang secara konsisten dirumuskan oleh para pemikir muslim modern sejak Al Afghani hingga Sayyid Qutub dan Al Maududi (pandangan Gus Dur tentang lslam dan Negara pancaiila).

Meskipun Negara Pancasila bukan berarti Negara Agama, sebaiknya pemerintah tetap selalu memperhatikan kepentingan mayoritas umat lslam sebagai warga Negara. Jika pemerintah membuat Peraturan perundangan hendaknya lebih memberikan peluang kepada fiqh lslam, yang menjadi landasan hidup umat lslam sehari-hari, Halinidisadari bahwa umat lslam dalam Negara Pancasila tidak dapat mendirkan negara lslam, tetapi jika peraturan perundangan tidak menantang arus fiqh lslam maka berarti tidak akan menghalangi bagi umat lslam melaksanakan hukum lslam.

Pada akhirnya umat lslam memberikan legitimasi terhadap Pancasila sebagai dasar Negara dan Negara memberikan legitimasi terhadap umat lslam melaksanakan syari'at agamanya dalam kehidupan ber-Masyarakat, ber-Bangsa dan ber-Negara, Dan secara sosiologis, hubungan Ulama dan Umaro dapat berdampingan saling mengisi dalam membangun bangsa dan negara, sebaliknya kehidupan mayoritas umat lslal dalam Negara Pancasila semakin memiliki peran penting dalam pembangunan disegala bidang kehidupan, Sehingga keberhasilan pembangunan bangsa dan Negara ini juga merupakan keberhasilan umat lslam.

C.        KESIMPULAN

Berdasarkan uraian tentang Pancasila menurut Pandangan lslam dari sudut Theologis dan Sosiologis, maka dapat ditarik kesimpulan dalam 2 (dua ) hal, yaitu :

1. Secara theologis, bahwa sebagai warga bangsa harus menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan nilai'nilai Agama. Pancasila yang memiliki sila pertama Ke Tuhanan yang Maha Esa, telah memberikan arti secara theologies bagi pelaksanaan sila-sila selanjutnya, Hal inidapat dimengerti bahwa setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam mengambil keputusan harus berdasarkan aspirasi politik umat lslam yang mayoritas, khususnya mmperhatikan kehidupan umat lslam yang melaksanakan syari’at agamanya' Sehingga kepentingan Negara dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan tidak bertentangan dengan kehendak Allah Tuhan yang Maha Esa, yang secara syari'at menjadi keyakinan umat lslam.

2. Negara Pancasila telah memberikan legitimasi umat lslam dalam melaksanakan sysi'at lslam, sebaliknya umat lslam telah meligitimasikan Pancasila sebagai dasar Negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bemegara, Karena itu pancasila telah menjadi bagian dari nilai - nilai ajaran lslam yang sejalan dengan kehidupan sehari-hari umat lslam' Karena itu Tri Kerukunan Hidup Umat beragama perlu didukung sepenuhnya oleh warga bangsa, demi terwujudnya persatuan dan kesatuan Negara Republik lndonesia, yang berdasarkan Ke-Tuhanan Yang Esa dan berahklakul karimah.

D.        PENUTUP

Demikian tulisan kami yang beriudul ”Pancasila menurut pandangan lslam ( dipandang dari sudut Theologis dan sosiologis ), hendaknya dapat memoerkan sumbangsih kepada anak bangsa lndonesia dan Negira, agar oapat dipahami bahwa betapa pentingnya nirai-nilai Pancasila dalam Agama lslam masih ,rngri rerevan dalam membangun karakter bangsa dan kehidupan yang berakhlakul karimah sehari-hari dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. sebagaimana sabda Rasulallah ”innama bu,istu liutamimma makarimal ahlak", (sesungguhnyi aku diutus untuk menyempurnakan akhlak ).

Semoga Allah SWT Tuhan yang Maha Esa, selalu memberikan rahmat dan hidayah kepada anak-anak bangsa dan pemimpinnya, daram menjalankan amanah yang diberikan Allah SWT sebagai khalifah dibumi lndonesia, dan sekaligus hendaknya menjadikan diri kita bermuhasabah (instropeksi diri). Amin Ya Mujibas Saailiin.

Tim


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Ut odio. Nam sed est. Nam a risus et est iaculis adipiscing. Vestibulum ante ipsum faucibus luctus et ultrices.
View all posts by Naveed →

Latest Stories

Blogroll New

Recent news

Proudly Powered by Blogger.