Facebook Twitter Google RSS

Kepemimpinan Modern Yang Berwawasan Kebangsaan

Tim     22.42  

Kepemimpinan merupakan topik yang selalu menarik diperbincangkan dan tidak akan pernah habis dibahas. Masalah kepemimpinan akan selalu hidup dan digali pada setiap zaman, dari generasi ke generasi guna mencari formulasi sistem kepemimpinan yang aktual dan tepat untuk diterapkan pada zamannya. Hal ini mengindikasikan bahwa paradigma kepemimpinan adalah sesuatu yang sangat dinamis dan memiliki kompleksitas yang tinggi. Kepemimpinan menjadi suatu yang sangat krusial karena pemimpin memiliki peranan vital sebagai dinamisator, motivator dan motor organisasi, menjadi figur panutan organisasi, menentukan  kultur (budaya organisasi), memancarkan citra organisasi serta pemecah kompleksitas atas masalah yang dihadapi organisasi.




Para pemimpin juga memainkan paranan kritis dalam membantu kelompok, organisasi atau masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan mereka, bahkan kesuksesan suatu bangsa bukan semata-mata ditentukan oleh luasnya wilayah, banyaknya penduduk, atau melimpahnya kekayaan alamnya melainkan juga karena para pemimpinnya yang berpikir besar dan melakukan langkah-langkah bersejarah.  Kepemimpinan merupakan fenomena kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan yang berpengaruh terhadap perkembangan kenegaraan dan merupakan salah satu fungsi yang dapat mendorong terwujudnya cita-cita dan tujuan nasional.

Pada era globalisasi ini, kehidupan manusia telah mengalami perubahan-perubahan fundamental yang berbeda dengan tata kehidupan dalam abad sebelumnya. Perubahan-perubahan besar dan mendasar tersebut menuntut penanganan yang berbeda dengan sebelumnya. Pada abad modern ini diperlukan paradigma baru di bidang kepemimpinan, manajemen dan pembangunan dalam menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan baru. Dengan demikian urgensi pemahaman tentang kepemimpinan modern yang berwawasan kebangsaan sangat mutlak diperlukan oleh para pemimpin dan kader pemimpin suatu organisasi, khususnya organisasi-organisasi yang bersifat vital dan strategis yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Organisasi abad modern adalah komit terhadap kualitas sumber daya manusia sehingga kepemimpinan masa depan adalah pemimpin yang terus belajar, memaksimalkan energi dan menguasai perasaan yang terdalam, kesederhanaan dan multifokus. Oleh karena itu, kualitas menjadi penting dan kuantitas tidak lagi menjadi keunggulan. Mencari pengetahuan dan menggali ilmu harus terus dilakukan bagi pemimpin masa depan, hal ini sangat penting sebab ilmu pengetahuan merupakan energi vital bagi setiap organisasi.  Kepemimpinan masa depan adalah seorang pemimpin yang adaptif terhadap tantangan, peraturan yang menekan, memperhatikan pemeliharaan disiplin, memberikan timbal balik kepada para karyawan, dan menjaga kepemimpinannya. Kepemimpinan harus selalu menyiapkan berbagai bentuk solusi dalam pemecahan masalah tantangan masa depan. Dalam kaitannya dengan adaptasi terhadap perubahan, ditekankan pada pemanfaatan sumber daya manusia. Untuk itu, perlu dikembangkan peraturan-peraturan baru, hubungan dan kerjasama yang baru, nilai-nilai baru, perilaku baru, dan pendekatan yang baru terhadap pekerjaan.  Kepemimpinan abad modern mengisyaratkan diperlukannya global leadership dan mindset  tertentu sehingga seiring dengan dinamika perkembangan global, berkembang pula pemikiran dan pandangan mengenai kepemimpinan global (global leadership), yang akan banyak menghadapi tantangan dan memerlukan berbagai persyaratan untuk suksesnya organisasi, seperti dalam membangun visi bersama dalam konteks lintas budaya dalam kemajemukan hidup dan kehidupan bangsa-bangsa.

Dengan melihat uraian diatas, maka kompetensi pemimpin dalam konteks kepemimpinan modern yang berwawasan kebangsaan dapat disajikan dan diklasifikasikan dalam empat jenis kompetensi, yaitu: Kompetensi Teknis (Technical Competence), yaitu kompetensi mengenai bidang yang menjadi tugas pokok organisasi. Kompetensi teknis ini misalnya dalam hal mengoperasionalisasikan sistem prosedur kerja yang berkaitan dengan pelaksanaan kebijakan dan tugas instansi/organisasi, atau dalam menerapkan sistem dan prinsip-prinsip akuntabilitas dalam pelaksanaan kebijakan unit organisasinya, termasuk bagaimana melaksanakan keseluruhan kegiatan-kegiatan pengelolaan kebijakan dan program termasuk pelaporan pertanggung-jawabannya.

Kompetensi Manajerial (Managerial Competence), adalah kompetensi yang berhubungan dengan berbagai kemampuan manajerial yang dibutuhkan dalam menangani tugas-tugas organisasi. Kompetensi manajerial ini meliputi antara lain dalam hal kemampuan menerapkan konsep dan teknik perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, dan evaluasi kinerja unit organisasi, juga kemampuan dalam hal melaksanakan prinsip-prinsip kepemimpinan yang baik dalam manajemen organisasi, termasuk bagaimana mendayagunakan kemanfaatan sumber daya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas.

Kompetensi Sosial (Social Competence) yaitu kemampuan melakukan komunikasi yang dibutuhkan oleh organisasi dalam pelaksanaan tugas pokoknya. Kompetensi sosial dapat terlihat di lingkungan internal seperti memotivasi SDM dan atau peran serta masyarakat guna meningkatkan produktivitas kerja, atau yang berkaitan dengan lingkungan eksternal seperti melaksanakan pola kemitraan, kolaborasi, dan pengembangan jaringan kerja dengan berbagai lembaga dalam rangka meningkatkan citra dan kinerja organisasi, termasuk di dalamnya bagaimana menunjukkan kepekaan terhadap hak-hak asasi manusia, nilai-nilai sosial budaya  bangsa, dan sikap tanggap terhadap aspirasi dan dinamika anggota yang dipimpinnya/masyarakat.

Kompetensi Intelektual/Strategik (Intelectual/strategic competence) yaitu kemampuan untuk berfikir secara strategik dengan visi jauh kedepan. Kompetensi intelektual ini meliputi kemampuan merumuskan visi, misi, dan strategi dalam rangka mencapai tujuan organisasi sebagai bagian integral dari pembangunan nasional, merumuskan dan memberi masukan untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan yang logis dan sistematis, juga kemampuan dalam hal memahami paradigma pembangunan yang relevan dalam upaya mewujudkan kepemimpinan yang baik dan mencapai tujuan bangsa dan negara, serta yang kemampuan dalam menjelaskan kedudukan, tugas, dan fungsi organisasi.

Dengan kompetensi memadai yang dimiliki SDM pemimpin, maka penyelenggaraan organisasi dapat berjalan secara profesional. Penyelenggaraan manajemen dalam organisasi tidak akan dapat berjalan sinergis dengan kepentingan negara apabila hanya mengandalkan kompetensi saja, oleh karena itulah perlunya wawasan kebangsaan. Guna penerapan kosep wawasan kebangsaan ini perlu dipahami 2 aspek penting yaitu aspek moral yang mensyaratkana adanya perjanjian diri/komitmen pada seseorang/masyarakat untuk turut bekerja bagi kelanjutan existensi bangsa dan bagi peningkatan kualitas kehidupan bangsa dan aspek intelektual yang terkait dengan pengetahuan yang memadai guna menuntaskan tantangan yang dihadapi bangsa saat ini dan masa mendatang serta berbagai potensi yang dimiliki bangsa. Terkait dengan hal etika kehidupan berbangsa dan bernegara yang berperan sebagai rel nilai serta memberikan rambu-rambu nilai dalam penyelenggaraan organisasi yang tetap berorientasi kebangsaan Indonesia maka  pokok-pokok etika dalam kehidupan berbangsa yang mengedepankan kejujuran, amanah, keteladanan, sportifitas, disiplin, etos kerja, kemandirian, sikap toleransi, rasa malu, tanggung jawab, menjaga kehormatan serta martabat diri sebagai warga negara senantiasa harus diaktualisasikan sebagai pondasi kompetensi kepemimpinan. Etika kehidupan berbangsa yang terkait meliputi etika sosial dan budaya, etika ekonomi dan bisnis, etika keilmuan, dan etika lingkungan.

Etika sosial dan budaya bertolak dari rasa kemanusiaan yang mendalam dengan menampilkan kembali sikap jujur, saling peduli, saling memahami, saling menghargai, saling mencintai dan saling menolong diantara sesama manusia dan warga bangsa. Sejalan dengan itu, perlu menumbuhkembangkan kembali budaya malu, yakni malu berbuat kesalahan dan semua yang bertentangan dengan moral agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa.  Untuk itu, juga perlu ditumbuhkembangkan kembali budaya keteladanan yang harus diwujudkan dalam perilaku para pemimpin baik formal maupun informal pada setiap lapisan masyarakat. Etika ini dimaksudkan untuk menumbuhkan dan mengembangkan kembali kehidupan berbangsa yang berbudaya tinggi dengan menggugah, menghargai, dan mengembangkan budaya nasional yang bersumber dari budaya daerah agar mampu melakukan adaptasi, interaksi dengan bangsa lain, dan tindakan proaktif sejalan dengan tuntutan globalisasi. Untuk itu diperlukan penghayatan dan pengamalan agama yang benar, kemampuan adaptasi, ketahanan, dan kreativitas budaya.

Etika Ekonomi dan Bisnis dimaksudkan agar prinsip dan perilaku ekonomi dan bisnis, baik oleh perseorangan, institusi, maupun pengambil keputusan dalam bidang ekonomi dapat melahirkan kondisi dan realitas ekonomi yang bercirikan persaingan yang jujur, berkeadilan, mendorong berkembangnya etos kerja ekonomi, daya tahan ekonomi dan kemampuan saing, dan terciptanya suasana kondusif untuk pemberdayaan ekonomi. Etika ini mencegah terjadinya praktek-praktek monopoli, oligopoli, kebijakan ekonomi yang mengarah kepada perbuatan korupsi, dan nepotisme, diskriminasi yang berdampak negatif terhadap efisiensi, persaingan sehat, dan keadilan, serta menghindarkan perilaku menghalalkan segala cara dalam memperoleh keuntungan.

Etika keilmuan dimaksudkan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, ilmu pengetahuan dan teknologi agar warga bangsa mampu menjaga harkat dan martabatnya, berpihak kepada kebenaran untuk mencapai kemaslahatan dan kemajuan sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya. Etika ini diwujudkan secara pribadi ataupun kolektif dalam karsa, cipta dan karya, yang tercermin dalam perilaku kreatif, inovatif, inventif, dan komunikatif, dalam kegiatan membaca, belajar, meneliti, menulis, berkarya, serta menciptakan iklim kondusif bagi pengembangan ilmu dan teknologi. Etika keilmuan menegaskan pentingnya budaya kerja keras dan menghargai dan memanfaatkan waktu, disiplin dalam berfikir dan berbuat, serta menepati janji dan komitmen diri untuk mencapai hasil yang terbaik. Di samping itu, etika ini mendorong tumbuhnya kemampuan menghadapi hambatan, rintangan dan tantangan dalam kehidupan, mampu mengubah tantangan menjadi peluang, mampu menumbuhkan kreativitas untuk penciptaan kesempatan baru, dan tahan uji pantang menyerah. Etika lingkungan menegaskan pentingnya kesadaran menghargai dan melestarikan lingkungan hidup serta penataan tata ruang secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Dengan demikian jelas bahwa pemimpin modern adalah pemimpin yang unggul dan ”super”, pemimpin yang memiliki visi yang efektif, karakter yang  kuat dan kompetensi untuk menjawab tantangan jaman serta memiliki rasa kebangsaan, paham kebangsaan dan semangat kebangsaan yang terimplementasi dalam kinerjanya serta komitmennya dalam tetap menjaga nilai-nilai luhur budaya bangsa.(KBM)

Tim


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Ut odio. Nam sed est. Nam a risus et est iaculis adipiscing. Vestibulum ante ipsum faucibus luctus et ultrices.
View all posts by Naveed →

Latest Stories

Blogroll New

Recent news

Proudly Powered by Blogger.